Update Post :

e-DDC

Ruang Baca

Latihan Mandiri

Tampilkan postingan dengan label Ruang Baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Baca. Tampilkan semua postingan

Kemendiknas akan ganti Buku cetak dengan Komputer Tablet

21 Okt 2011 18.16


Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan mengembangkan komputer tablet yang berisi materi pelajaran. Komputer tablet ini nantinya akan menggantikan buku cetak pelajaran yang selama ini digunakan oleh siswa sekolah.

“Komputer tablet ini akan digunakan sebagai bagian utama dalam sistem pelajaran,” ujar Mendiknas M Nuh di kantor Kemendiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (2/5/2011).

Nuh mengatakan buku yang berbentuk cetak hanya akan menjadi penunjang komputer tablet tersebut. Sehingga para siswa tidak perlu lagi membawa buku yang banyak dan berat ke sekolah.

“Itu yang membuat mereka kecapekan,” ungkapnya.

Kemendiknas dalam hal ini bekerjasama dengan Microsoft Indonesia dan Intel Indonesia. Sayangnya Nuh tidak menjelaskan kapan komputer tablet ini mulai diluncurkan. Nuh juga tidak sempat menjelaskan mengenai komputer tablet ini apakah akan dibagikan kepada setiap siswa atau mereka harus membeli.

Sementara itu Direktur Utama Microsoft Indonesia Sutanto Hartono mengatakan kerjasama tersebut bertujuan untuk meningkatkan metode pengajaran para guru. Dengan program ini diharapkan guru dan tenaga pengajar akan siap menggunakan metode belajar mengajar abad ke 21.

“Selain itu juga dapat meningkatkan performa dalam hal e-learning,” jelas Sutanto.

Sutanto menjelaskan Microsoft berkomitmen untuk memberikan dukungan piranti lunak yang dapat diunduh secara gratis dalam rangka proses akademik yang akhirnya akan mendukung karir para siswa di masa mendatang. Microsoft mendukung terus dunia pendidikan Indonesia dalam menyongsong era pendidikan era abad 21.

“Soal harga akan dibicarakan lebih lanjut,” ujarnya.

Manager Humas Intel Indonesia Corporation Dhyoti R. Basuki mengungkapkan hal serupa. Kerjasama ini merupakan pemanfaatan program dengan tujuan mendukung pilar-pilar kebijakan pendidikan di Kemendiknas.

“Dalam pelaksanaan kerjasama ini, Intel akan memperkuat inisiatif pendidikan di Indonesia. Bertujuan untuk memperluas konektivitas pendidikan berbasis TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) dan pengembangan konten. Kerjasama ini diharapkan membantu para guru dalam proses pengajaran sehingga menghasilkan metode belajar yang efektif sehingga akan mendorong kreativitas dan inovasi para siswa,” jelasnya.

Sumber: detiknews.com

Kini Sudah ZamanNya Perpustakaan Digital

18.15


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) merambah segala bidang, termasuk perpustakaan. Kini, pengelolaan perpustakaan pun berbasis teknologi digital.

Hal tersebut disampaikan oleh Pembantu Dekan III Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Mujid Farihul Amin pada seminar nasional The Metamorphosis of Library: Conventional to Digitalization, baru-baru ini,

“Saat ini sejalan dengan perkembangan Iptek maka perpustakaan pun mengalami perubahan dari media konvensional menjadi media digital,” kata Mujid seperti dikutip dari keterangan tertulis Undip.

Penerapan teknologi digital diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Hal ini penting mengingat fungsi perpustakaan yang vital sebagai jantung institusi pendidikan, termasuk perguruan tinggi.

Seminar yang dihelat oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Perpustakaan Undip tersebut menghadirkan pembicara Guru Besar Ilmu Perpustakaan UI Sulistyo Basuki, penggagas Al Quran Digital Jakarta Rachmat Raharjo, dan Kepala Perpustakaan Universitas Kristen Petra, Surabaya, Aditya Nugraha.

Sulistyo Basuki mengatakan, pengelolaan perpustakaan menggunakan teknologi terbaru menunjukkan wajah perpustakaan tradisonal dan digital. Dia menambahkan, keunggulan perpustakaan digital adalah tidak adanya batasan fisik, akses 24 jam, multiakses, temu balik informasi, unggul dalam preservasi dan konservasi, serta menghemat ruang.

Sulistyo memaparkan, untuk menghadapi kemajuan teknologi, calon pustakawan haruslah memiliki kemampuan seperti keahlian bahasa tulis yang baik sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD), kemampuan bahasa Inggris secara lisan dan tertulis, memahami ilmu perpustakaan dan perkembangan teknologi informasi (TI) dengan baik, serta banyak membaca. “Jika tidak memiliki bekal tersebut maka kita akan tertinggal,” katanya menegaskan.

Rachmat Rahardjo menekankan aspek media penyimpanan pada perpustakaan digital. Menurutnya, media penyimpanan dan perawatan yang baik akan mengoptimalkan digitalisasi perpustakaan. Sebaliknya, jika hal ini diabaikan, maka seluruh data dapat mudah hilang dan sulit untuk diselamatkan (recovery).

Rachmat menjelaskan, teknologi terbaru perpustakaan digital adalah Redundant Array of Independent Disk (RAID). Teknologi ini menggunakan lebih dari satu hardisk, sehingga jika salah satu hardisk rusak, maka akan dapat diganti ke hardisk cadangan. “Teknologi ini membuat kapasitas perpustakaan lebih besar, dengan keselamatan dan tingkat keamanan data lebih tinggi,” ujarnya.

Dalam seminar yang dihadiri oleh mahasiswa, dosen dan pustakawan berbagai institusi daerah di Jawa tengah itu, Aditya Nugraha memaparkan, agar terkelola dengan baik perpustakaan digital perlu menyinergikan tiga komponen yakni koleksi digital, layanan, dan manajemen. Model ini, menurt Aditya, akan meminimalisasi penggadaan buku dari luar, sekaligus memaksimalkan lokal konten seperti karya-karya mahasiswa dan dosen.

“Perlu diingat, ketiga hal tersebut harus bekerja bersama dan tidak mungkin berdiri sendiri,” ujarnya menandaskan.

Sumber: okezone.com

Perpustakaan Sekolah Yang Ideal dimasa depan

18.12

Jika kita cermati, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era reformasi dan globalisasi saat ini mengalami dinamisasi yang sangat akseleratif. Sebagai konsekuensinya, hal tersebut menuntut kita untuk menjadi manusia yang berkualitas yang mampu mengimbangi lajunya perkembangan iptek tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Zamroni (2001: 33) bahwa ciri manusia berkualitas salah satunya adalah memiliki keahlian dalam bidang iptek. Manusia berkualitas ini hanya dapat dihasilkan melalui proses pendidikan yang berkualitas.

Salah satu sarana untuk menciptakan proses belajar mengajar yang berkualitas di sekolah adalah perpustakaan. Perpustakaan sekolah dewasa ini bukan hanya merupakan unit kerja yang menyediakan bacaan guna menambah pengetahuan dan wawasan bagi murid, tapi juga merupakan bagian yang integral pembelajaran. Artinya, penyelenggaraan perpustakaan sekolah harus sejalan dengan visi dan misi sekolah dengan mengadakan bahan bacaan bermutu yang sesuai kurikulum, menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan bidang studi, dan kegiatan penunjang lain, misalnya berkaitan dengan peristiwa penting yang diperingati di sekolah.

Perpustakaan sebagai salah satu sarana pendidikan bahkan terkenal dengan jantungnya pendidikan, yang secara langsung maupun tidak langsung turut berperan serta dalam proses pembentukkan manusia berkualitas, perlu mendapat penangananan yang optimal agar bisa berfungsi secara optimal. Di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah perpustakaan yang ada belum sepenuhnya difungsikan secara optimal. Bahkan sebagian sekolah hanya menempatkan perpustakaan sebagai sarana birokrasi, berfungsi asal bapak senang. Untuk berjaga-jaga kalau ada peninjauan dari pejabat/pengawas. Atau hanya untuk kepentingan memperoleh akreditasi atau persyaratan menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN).

Bahkan akhir-akhir ini, terkait dengan program sertifikasi guru, ada beberapa sekolah yang menempatkan bapak ibu guru sebagai koordinator atau kepala perpustakaan. Alasannya, agar bapak ibu guru tersebut dapat memenuhi persyaratan mengajar 24 jam untuk kepentingan sertifikasi. Padahal bapak ibu guru tersebut belum tentu menguasai manajemen perpustakaan karena memang mereka bukan ahli pustaka atau bukan pustakawan. Dengan demikian, bisa dibayangkan ke depan perpustakaan sekolah yang dipimpinnya seperti apa.

Kondisi perpustakaan lainnya, terkait dengan sepinya pengunjung perpustakaan yang terjadi di beberapa sekolah. Keadaan ini disinyalir karena minimnya koleksi buku-buku yang ada dan juga karena koleksi buku yang ada kurang sesuai dengan minat anak-anak. Minimnya koleksi buku-buku perpustakaan yang ada, bisa dikarenakan pihak sekolah belum mengoptimalkan anggaran untuk perpustakaan. Padahal dalam Undang-undang Perpustakaan no 43 tahun 2007, disitu tertera dengan jelas bahwa sekolah wajib mengalokasikan anggaran untuk pengembangan perpustakaan sebesar 5 % dari seluruh anggaran belanja sekolah di luar gaji pegawai. Akan tetapi pada kenyataannya belum semua sekolah memahami undang-undang tersebut, sehingga banyak sekolah yang belum mengalokasikan anggaran utnuk pengembangan perpustakaan yang ada.

Dengan demikian perkembangan perpustakaan sekolah yang ada bertahun-tahun seperti jalan di tempat. Sarprasnya terbatas, koleksi bukunya juga terbatas, pengunjungnya pun tidak pernah bertambah. Mati enggan, hidup pun sungkan.

Terlepas dari kondisi seperti apa perpustakaan yang ada di negeri ini, khususnya di sekolah-sekolah, yang jelas seiring dengan berkembangnya era reformasi, informasi dan globalisasi, maka sudah saatnya kita menata ulang, membenahi, perpustakaan yang ada agar berfungsi secara optimal sebagai perpustakaan sekolah ideal di masa yang akan datang.

Perpustakaan sekolah yang ideal adalah perpustakaan yang mampu melayani kebutuhan pengunjungnya, perpustakaan yang mampu mengoptimalkan fungsinya sebagai sarana pendidikan, perpustakaan yang mampu mengimbangi perkembangan iptek dan informasi, dan perpustakaan yang mampu menjadi sumber belajar bagi para siswanya serta perpustakaan yang sudah mampu mengaplikasikan system aotomasi.

Tujuan dari uraian mengenai perpustakaan sekolah yang ideal ini adalah memberikan wawasan bagi para pengelola pendidikan khususnya di sekolah-sekolah terlebih bagi pengelola perpustakaan sekolah itu sendiri agar mampu mewujudkan perpustakaan yang ideal demi tercapainya visi dan misi sekolah. ,

Perpustakaan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1998: 577) diartikan sebagai tempat buku-buku, informasi dan lain-lain. Karena buku-buku merupakan sumber ilmu, maka perpustakaan memiliki peran yang strategis dalam rangka mencapai tujuan dan peroses pendidikan. Perpustakaan merupakan instrumen belajar yang vital, ini jika diibaratkan perpustakaan adalah jantungnya pendidikan. Jantung harus berdetak, supaya tubuhnya tetap hidup. Akan tetapi yang terjadi selama ini, perpustakaan belum menjadi bagaian dari proses pendidikan, melainkan perpustakaan baru sebagai pelengkap sarana pendidikan. Karena itu jangan heran jika suatu ketika kita menemukan sebuah perpustakaan sekolah yang keadaannya sepi, bukunya tertata rapi dan masih baru belum tersentuh tangan. Tetapi ada juga sih, beberapa sekolah, yang perpustakaannya betul-betul berfungsi sebagai jantungnya pendidikan. Sehingga hampir tiap hari ramai pengunjung dan fasilitas pun memadai bahkan sempat menjadi juara tingkat nasional.

Saat ini ditengah-tengah isyu adanya hasil pendidikan kurang memuaskan, penataan dan pembenahan fungsi optimal perpustakaan kiranya bisa sebagai salah satu alternatif pemecahan. Perpustakaan sebagai gudangnya ilmu pengetahuan, jika dioptimalkan fungsinya maka (1) para siswa akan senang berkunjung ke perpustakaan, (2) para siswa akan banyak membaca buku-buku perpustakaan, yang artinya akan banyak pula ilmu terserap dikepalanya, (3) Para siswa menjadi pandai dan menguasai banyak ilmu pengetahuan (cerdas), (4) Para siswa yang cerdas, akan berkorelasi secara signifikan terhadap perilakunya, (5) Minat membaca dan belajar siswa meningkat.

Selain itu, perpustakaan memiliki beberapa peran, misalnya (1) sebagai wahana belajar sepanjang hayat, (2) sebagai salah satu upaya untuk memajukan kebudayaan nasional, perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa. (3) sebagai media penamana budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berupa karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam (UU no 43 tahun 2007).

Perpustakaan juga memiliki fungsi kultural, misalnya perpustakaan dapat dimanfaatkan secara informal sebagai lingkungan yang indah, berbudaya serta merangsang, yang memiliki sumber daya berupa majalah, novel dan terbitan lain serta audio-visual. Peristiwa penting dapat diselenggarakan di perpustakaan, misalnya kegiatan pameran, kunjungan pengarang dan hari literasi internasional. Jika tersedia ruangan yang mencukupi, murid dapat menyelenggarakan pertunjukan yang diilhami oleh bacaan di depan para orang tua dan murid lainnya, dan pustakawan dapat mengorganisasi kegiatan bedah buku dan mendongeng untuk anak-anak yang lebih muda.

Alangkah indah dan nyamannya dunia pendidikan jika memiliki para siswa, pelajar, dan mahasiswa yang cerdsa-cerdas. Negara dan pemerintah ini tentunya akan dipimpin oleh orang-orang yang cerdas, yang mampu membawa bangsa dan negara menuju ke kemakmuran bersama sesuai dengan cita-cita para pejuang kemerdekaan dahulu. Orang yang cerdas berbanding lurus dengan perilakunya. Jadi, jika negara Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang cerdas, kemungkinan besar tidak akan ada kasus korupsi, perselingkuhan, pembunuhan atau narkoba. Bahkan kegiatan demo-demo yang sering dilakukan oleh masyarakat luas juga bisa dikendalikan. Karena orang yang cerdas, jika mau berbuat, pasti dipertimbangkan dulu plus minusnya.

Perpustakaan adalah tempat buku-buku, informasi dan lain-lain. Buku-buku yang ada di perpustakaan memang untuk dibaca. Tak terhitung jumlahnya berapa kekayaan pengetahuan yang kita peroleh melalaui kegiatan membaca. Bahkan ada pepatah, tidak membaca apa kata dunia?!. Memang benar, buku adalah jendela dunia. Tidak membaca buku tidak bisa melihat dunia.

Dengan membaca buku, dunia yang jauhpun informasinya dapat kita ketahui. Bahkan kita tidak tebatas hanya membaca buku, buka intenet kita baca isinya. Kita peroleh sesuatu hasil kita membaca lewat internet. Maka orang yang gemar membaca, kaya akan pengetahuan dan pengalaman untuk diintegrasikan dalam perilakunya sehari-hari. Dengan pengetahuan yang berlebih diharapkan akan terefleksi dalam perilakunya yang dapat diteladani oleh orang lain. Bahkan menurut Kusumawardani (2008:06) kegiatan membaca sama dengan membangun budaya masyarakat pembelajar, yang selalu haus akan ilmu pengetahuan.

Dalam Al-qur’an surat 96:1-5, diterangkan bahwa ketika Malaikat Jibril datang dan meminta Muhammad untuk membaca. Muhammad menjawab: ”Apa yang akan saya baca?” seterusnya malaikat itu berkata ”Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhan mu maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya…” Dengan kutipan tersebut jelaslah bahwa perintah membaca bukan semata-mata keinginan kita agar lebih maju dan bertambah ilmu melainkan dalam alquran pun mengajarkan kepada kita..”Apapun yang kita baca, lakukanlah dengan menyebut nama Tuhanmu! Lewat bacaan itu, Dia akan mengajarkan kepada kita apa yang sebelumnya tidak kita ketahui…”. Jadi, tidak berlebihan jika sekolah mewajibkan para siswa untuk melakukan kunjungan perpustakaan dan mewajibkan siswa membaca buku secara rutin dan berkala.

Menanamkan budaya membaca memang mutlak dilakukan jika kita menghendaki bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas. Hal ini bukan hanya tanggungjawab dari para pendidik di sekolah, tapi juga tanggungjawab masyarakat luas, termasuk orangtua. Tetapi yang terlihat sekarang ini, kita lebih sibuk dan asyik menonton sinetron daripada membaca buku. Inilah fenomena yang tidak bisa kita pungkiri yang ada di masyarakat kita.

B. Perpustakaan Sekolah yang Ideal di Masa Depan.

Perpustakaan sebagai bagian dari sarana dan proses pendidikan selain fungsi dan perannya dioptimalkan, keadaan perpustakaan itu sendiri juga harus memadai bahkan ideal. Perpustakaan sekolah yang ideal yang sesuai dengan tuntutan zaman saat ini itu yang seperti apa?.

Perkembangan iptek yang semakin dinamis dan akseleratif di era globalisasi saat ini menuntut perpustakaan untuk selalu berkembang menyesuaikan perkembangan IPTEK tersebut. Untuk mewujudkan perpustakaan sekolah yang ideal di masa depan nanti, ada langkah-langkah nyata dan strategis yang harus dilakukan, antara lain mencakup (1) penataan tempat/ruang, (2) koleksi materi perpustakaan, (3) sarana pendukung, (4) pelayanan sistem automasi, (5) pustakawan dan (6) pemakai perpustakaan/ minat baca pemakai.

  1. Lokasi dan Ruang Perpustakaan

Perpustakaan yang baik lokasi dan ruangnya haruslah startegis, dalam arti mudah terjangkau oleh para pengunjung, baik oleh siswa, guru maupun karyawan tata Usaha. Jika memungkinkan lokasi terpusat atau sentral, tidak di lantai atas yang menyebabkan para siswa maupun guru enggan mengunjunginya. Akses dan kedekatan, dekat dengan semua kawasan pengajaran. Faktor kebisingan diminimalkan. Pencahayaan diusahakan baik dan cukup, baik lewat jendela maupun lampu penerangan. Suhu ruangan yang tepat /sesuai ( misalnya ada suhu ruangan atupun ventilasi yang mencukupi) untuk menjamin kondisi bekerja yang baik sepanjang tahun. Ukuran ruang juga harus cukup untuk menampung koleksi buku, fiksi dan nonfiksi dan juga jumlah pengunjung.

2. Koleksi Materi Perpustakaan

Koleksi perpustakaan sekolah disesuaikan dengan keadaan sekolah, jumlah siswa, kemampuan sekolah, kebutuhan para penggunanya baik guru maupun siswa dan warga sekolah lainnya. Perkembangan koleksi yang terus menerus merupakan keharusan untuk menjamin penggguna memperoleh pilihan terhadap materi baru secara tetap. Tenaga perpustakaan harus bekerjasama dengan administrator dan staf lain agar dapat mengembangkan kebijakan manajemen koleksi bersama.

Koleksi sumber daya buku harus sesuai dan hendaknya menyediakan sejumlah buku secara memadai per pengunjung, misalnya satu pengunjung 10 buku. Perpustakaan terkecil hendaknya memiliki paling sedikit 2.500 judul materi perpustakaan yang relevan dan mutakhir agar stok buku sesuai dengan kemampuan dan latar belakang pengguna. Paling sedikit 60% koleksi perpustakaan terdiri dari buku nonfiksi yang berkaitan dengan kurikulum. Yang tidak kalah pentingnya, ternyata para siswa juga butuh bacaan hiburan seperti majalah, kumpulan cerpen, komik, atau buku teka teki silang, kaset video, dan lain-lain yang dapat menghibur dan mengurangi kepenatan siswa. Pemilihan materi hiburan tersebut harus ada kerjasama antara pengurus perpustakaan dengan para siswa selaku pengunjungnya.

3. Sarana Pendukung Perputakaan Sekolah yang Ideal. Sumber daya Elektronik

Sumber informasi elektronik harus mencerminkan kurikulum dan minat serta budaya pengguna. Sumberdaya elektronik hendaknya meliputi akses ke Internet, pangkalan data referens khusus dan teks lengkap, bermacam paket perangkat lunak komputer berkaitan dengan pengajaran. Sumber tersebut hendaknya dapat diperoleh dalam bentuk CD-ROM dan DVD.

Penting juga untuk memilih sistim katalog perpustakaan yang dapat diterapkan untuk mengklasifikasi dan mengkatalog materi perpustakaan sesuai dengan standar bibliografis nasional dan internasional. Hal tersebut memungkinkan perpustakaan memasuki jaringan yang lebih luas.

  1. Peralatan Elektronik dan Pandang-dengar

Perpustakaan mempunyai peran penting sebagai pintu gerbang bagi pengguna masa kini yang berbasis informasi. Karena alasan inilah, maka perpustakaan harus menyediakan akses ke semua peralatan elektronik, komputer, dan pandang-dengar. Peralatan tersebut meliput Komputer meja dengan akses internet, Katalog akses publik, tape-recorder, perangkat CD-ROM, alat pemindai (scanner), perangkat video (video players), dan peralatan komputer lainnya.

4. Pelayanan Sistem Automas

Pekerjaan administrasi dalam perpustakaan yang ideal sudah harus dikerjakan dengan computer. Istilah lainnya adalah sistem automasi. Sistem automasi yang utuh diartikan sebagai sebuah sistem yang merangkai secara terpasang (online) setiap jenis kegiatan di perpustakaan sehingga komputer menghasilkan informasi yang bersifat serta merta (instant information). Misalnya bila sebuah buku X dipinjam dan dicatatkan ke komputer di layanan sirkulasi, maka data peminjaman tersebut diinformasikan seketika itu juga kepada pemakai yang sedang melakukan penelusuran bahwa buku X telah berkurang jumlah eksemplarnya sebanyak satu buah. Jadi pemakai dapat memperoleh informasi tentang keberadaan sebuah buku apakah di rak atau di tangan peminjam. Sistem automasi yang utuh juga berarti bahwa data terpusat di satu tempat (file server) yang dapat dimanfaatkan melalui terminal-terminal secara serentak.

5. Tenaga Perpustakaan

Tenaga perpustakaan sekolah yang ideal di masa depan yang tersedia harus berkualifikasi (minimal D2, D3 atau S1) dan profesional. Mereka harus lulusan ilmu perpustakaan sehingga layak disebut pustakawan atau ahli perpustakaan. Karena saat ini eranya adalah era teknologi informasi dan komunikasui, maka pengoperasian komputer harus sudah menjadi menu sehari-hari. Namun pada kenyataannya, banyak sekolah-sekolah baik tingkat SD, SMP bahkan SMU yang masih menempatkan guru bahkan tenaga kependidikan bukan ahli pustaka sebagai kepala perpustakaan atau petugas perpustakaan. Dengan demikian, perkembangan perpustakaan yang ada berjalan tertatih-tatih atau perkembangannya bagaikan jalan di tempat.

6. Pengguna / Minat Baca Pemakai

Perpustakaan sekolah yang ideal tentu ramai dikunjungi banyak siswa, baik untuk kepentingan peminjaman dan pengembalian buku, maupun kepentingan lainnya seperti untuk belajar, bermain internet, mengerjakan tugas, atau untuk kegiatan belajar mengajar bersama guru mapel. Para siswa dan guru rajin mengunjungi perpustakaan karena memang mereka membutuhkan perpustakaan sebagai sarana / sumber pembelajaran.

C. Kesimpulan dan Saran

Perpustakaan merupakan sarana proses pembelajaran yang dilakukan dalam rangka mencapai visi dan misi sekolah, maka keberadaan perputakaan di sekolah selain fungsinya dioptimalkan sebagai jantungnya pendidikan, maka perlu kiranya mewujudkan perpustakaan yang ideal sehingga perpustakaan yang ada betul-betul memenuhi dan layak sebagai perpustakaan sekolah yang ideal yang memungkinkan para siswanya belajar dan menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar. Dengan demikian, di tengah isu adanya hasil pendidikan kurang memuaskan, pengoptimalan peran dan fungsi perpustakaan menjadi salah satu alternatif pemecahan di samping upaya mewujudkan perpustakaan tersebut menjadi sebuah perpustakaan sekolah yang ideal.

Daftar Pustaka

Depdiknas, (2008). TIK sebagai Sumber Belajar di Perpustakaan. Jakarta: Direktorak Pembinaan Sekolah Menengah Pertama

Depdikbud, (1998) Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Shaleh, Ibnu Ahmad, (1987). Penyelengaraan Perpustakaan Sekolah. Jakarta:

PT.Hidakarya Agung

Sulistyo-Basuki. (1991). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama

Undang-undang No.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan

Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Zamroni, 2001. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing.

Penulis: Dra. DARSITI, M.Pd

Gambiran, UH 5 / 292 RT 41 RW 10 Yogyakrta

KLASIFIKASI

18.05


Sebagaimana anda mengetahui, kata dasar perpustakaan adalah pustaka artinnya buku. Buku adalah terbitasn yang berjumlah sedikit-dikitnnya berjumlah 49 halaman tidak termasuk kulit. Koleksi perpus tidak hanya sekedar buku , melainkan juga surat kabar, majalah, bahkan ada beberapa perpustakaan yang memiliki filem serta mikrofim. Semuanya merupakan informasi terekam.

Materi perpustakan juga dikenal dengan nama bahan perpustakaan dan juga bahan pustaka. Materi perpustakaan yang diterima di perpustakaan harus kita golongkan atau kita kelompokan menurut subjeknya. Itu untuk memudahkan pengguna atau pemakai. Untuk pengelompokan materi perpustakaan menggunakan pedoman berupa klasifikasi dan tajuk subjek

Klasigikasi artinua mengelompokan benda atau subjek berdasarkan ciri tertentu yang merupakan bagian dari kehidupan manusia. Klasifikasi berasal dari kata latin classis. Klsifikasi adalah pengelompokan artinua mengumpulkan benda/entitas yang sama ato yang berbeda. Maka secara umum dapat dikatakan bahwa batasan klasifikasi adalah usaha menata alam pengetahuan kedalam tata urutan sistematis.

Klasifikasi yang diterapkan di perpustakaan dieri definisi sebagai penyususan sistematik terhadap buku dan materi perpustakan lain, katalog atau entri indeks berdasarkan subjek, dalam cara paling beguna bagi mereka yang membaca atu mencari iformasi. Dengan kata lain klasifikasi berfungsi ganda:
1. Sebagai gawai penyusunan buku di rak.
Sebagi sarana penysunan di rak mempunyai dua tujuan yaitu :
a. Membantu pemakai mengindentifikasi dan melokalisasi sebuah materi perpustakaan berdasarkan nomer panggil.
b. Mengelompokan semua materi perpustakaan yang sejenis menjadi satu.
2. Sebagai sarana penysunan entri bibliografis dalam katalog tercetak, bibliografi, dan indeks dalam tata susunan sistematis, misal dalam bibliografi nasional indonesia terbitasn perpustakaan nasional disusun menurut klasifikasi Dewey.

Karateristik tertentu untuk mengumpulkan materi perpustakaan menjadi satu. Karateristik pengumpilan berfariasi tergantung pada tajuk koleksi, misalnya materi perpustakaan dapat di kumpulkan menurut nama pengarang, bentuk fisik, tahun terbitan ataupun menurut subjek. Dalam sistem klasifikasi perpustakaan moderen ancangan subjek merupakan sifat domain pengumpulan materi perpustakaan.

Dengan kata lain klasifikasi berarti pembuatan bagian klasifikasi. Dan penerapan bagian klasifikasi tersebut terhasap materi perpustakaan. Orang yang menciptakan/menemukan/berkecimpung dalam teori bagian klasifikasi disebut klasifikasionis, orang yang menerapkan pengklasifikasi.


Media Teknologi Perpustakaan

18.03

PEMANFAATAN MEDIA DALAM PERPUSTAKAAN

Pendahuluan

Perkembangan perpustakaan saat ini menunjukan bahwa perpustakaan bukan hanya tempa yang menyimpan atau koleksi buku tetapi juga berperan sebagai tempat yang disebut the preservation of knowledge artinya, perpustakaan merupakan tempat mengumpulkan, memelihara, dan mengembangkan semua ilmu pengetahuan/gagasan manusia dari zaman ke zaman.
Secara khusus perpustakaan berfungsi sebagia pengumpulan, pelestarian, pengolahan, pemanfaatan dan penyebaran informasi. Untuk melaksanakan fungsi-fungsi itu secara efektif isi perpustakaan tidak hanya media cetak seperti bku, refrensi, endiklopedi, akan tetapi juga media non cetak.
Devinisi dan klasifikasi
Perarang perpustakaan telah berkembang tidak hanya mengkoleksi dalam bentuk media cetak akan tetapi juga harus memiliki koleksi yang noncetak. Untuk para pengguna supaya mendapatkan informasi yang lebih dan sesuai apa yang di perlukan para pemakai.

A.DEFINISI MEDIA DAN TEKNOLOGI
Pada umumnya para ahli mendefinisikan tentang media berdasarkan pada komusikasi. Jika di liahat dari asal katanya Media merupakan jamak dari kata medium. Dari bahasa latin yang disebut Antara.
Dari sudut pandang komunikasi medium berarti sesuatu yang menjadi perantara dalam komunikasi. Medium juga dapat sesuatu yang membantu penyampaiaan pesan dari pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan).
Istilah teknologi juga dapat dipandang sebagai produk dan proses. Tek sebagai prosduk berarti perangkat keras (hardware) dan perangkat (software) yang merupakan hasil aplikasi dari proses teknologi. Teknologi berupa produk misalnya proyektor slide, kamera, film, dan sebagainya. Sedangkan teknologi sebagai proses mempunyai arti: aplikasi yang sistematis dari pengetahuan ilmiah untuk melaksanakan tugas yang bersifat praktis. Istilah media teknologi yang digunakan pada modul ini adalah perangkat lunak dan perangkat keras yang memproduk tknologi dan dapat digunakan sebagai perantara dalam pengiriman informasi dan pengethuan dari pengirim sender kepada penerima receiver.
Robert heinich dan kawan-kawan mengemukakan definisi medium sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber dan penerima informasi.
Sedangkan dalam konteks aktifitas belajar mengajar Dr. Oemar Hamalik (1989) menggunakan definisi media sebagai teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan dan interaksi antar guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Sebuah model yang dikemukakan oleh Claud E. Shannon dan Warren Wweaver (1949) sebagai berikiut:


Didalam model komunikasi ini proses komunikasi dimulai dari pengirim pesan yang memiliki kegiatan untuk mengkomunikasikan pesan atau informasi kepada penerima pesan. Pengirim pesan bersifat umup siapa saja bisa, namun pengirim harus mendesain agar penerima pesan dapat dengan mudah memahaminya. Proses merancang pesan menjadi sistematik ini dinamakan dengan istilah enconding. Setelah proses enconding penerima pesan berusaha memehami isi pesan atau informasi tersebut tentunya melalui media tertentu proses itu dinamakan deconding. Media berperan sebagai perantara bagi pengirim dan pernerima pesan dalam proses pertukaran pesan atau informasi.
Jika anda membaca buku, maka mediumnya yaitu buku. Karena penulis ingin menyampaikan pesan atau informasi melalui sebuah buku.
Jika anda melihat video, penulis naskah sebagai pengirim pesan atau informasi yang ditranmisikan melalui medium video

Pengolahan Bahan Pustaka

18.00

1. FUNGSI LAYANAN PERPUSTAKAAN
Ada dua layanan perpustakaan yaitu:

1. Layanan teknis
2. Layanan pembaca

Yang dimaskud layanan teknik adalah pekerjaan perpustakaan dalam mempersiapkan buku agar nantinya dapat digunakan untuk menyelenggarakan layana baca.
Modul ini menekankan pada pembahasan layanan pembaca, yang meliputi:

1. Layanan dari berbagai jenis perpustakaan.
2. Layanan ruang baca.
3. Layanan sirkulasi bahan pustaka.
4. Layanan rujukan.
5. Layanan abstrak dan indeks.
6. Layanan informasi muktahir. Layanan foto copi.
7. Layanan literature dan sebagainya.

Layanan pembaca pembaca perpustakaan dimaksudkan untuk member jasa pelyanan kepada pembaca, yaitu anggota perpustakaan.
en:Jns pustakaan

1. Perpustakaan umum.
2. Perpustakaan sekolah.
3. Perpustakan perguruan tinggi.
4. Perpustakaan khusus.
5. Perpustakaan nasional.
6. Perpustakaan internasional ( perpustakaan yang diselenggarakan oleh badan-badan internasional missal UNESCO )

Perpustakan umum
Memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tidak membedakan ras, umur, agama, dan sebagainya. Karena itu kondisi perpustakaan umum harus lengkap koleksinya.
Perpustakaan sekolah
Memberikan pelayanan kepada murid, guru, kepala sekolah, dan staf administrasi lainnya. Pustakawan harus bekerja sama dengan guru atau kepala sekolah agar para murid aktif dan mandiri menggunakan koleksi yang dimiliki perpustakaan. Karena semua itu dapat menambah bahan belajar bagi para murid.

Perpustakaan perguruan tinggi

Memberikan pelayanan kepada seluruh sivitas akademika perguruan tinggi, yang terdiri atas mahasiswa, dosen, peneliti, guru besar, pimpinan, serta seluruh staf administrasi akademik. Layana perpustakaan harus menunjang tridharma pergurauan tinggi.
Perpustakaan khusus
Membeikan pelayanan kepada sekelompok pembaca yang khusus pula dan dalam bidang yang khusus juga. Contoh perpustakaan departemen dan perpustakaan perusahaan, yang dilayani adalah yang bekerja pada departemen dan perusahaan tersebut. Missal perpustakaan bang koleksinya harus merupakan yang berkaitan dengan perbangkan,dll.
Perpustakaan nasional
Fungs utama sebagai deposit, yaitu menyimpan semua bahan publikasi yang pernah ditebitkan di suatu Negara. Kegiatan ini ditunjang oleh undang-undang wajib simpan serah-karya cetak. Fungsi lain sebagai perpustakaan penelitian.

Dari jenis perpustakaan diatas masing-masing melayani anggota yang berbeda. Tetapi pada dasarnya layanan perpustakaan adalah sama yaitu memberikan bantuan kepada pembaca untuk memperoleh bahan pustaka sesuai minat dan perhatian mereka.
Menurut nasution perpustakan adalah pelaynan. Pelayanan berarti kesibukan. Bahan pustaka harus tesedia sewaktu-waktu tersedia bagi mereka yang memerlukannya.
Fungsi perpustakaan tidak boleh menyimpang dari tujjuan perpustakaan itu sendiri.

Fungsi yang lain adalah mengembangkan pendidikan

Tujun perpustakan memberikan pelayanan kepada para pembaca agar bahan pustaka yang di kumpulkan dan diolah sebaik-baiknya itu dapat sampai ke tangan pembaca.

Maksud diadakan pengolahan yaitu untuk mempermudah pencarian bahan pustaka sesuai yang dikehendaki pembaca atau pemakai.
Suatu tanda yang menunjukan profesi adalah kegiatan layanan pustakawan harus meperhatikan kebutuhan pembaca dalam bidamg literature. Perpustakaan menjadi penting jika menyediakan bahan pustaka dengan cepat dan tepat. Agar dapat dilaksanakan dengan baik maka bagi layanan teknik harus mengelola bahan pustaka dengan sebaik-baiknya.

2. LAYANAN RUANG BACA
layanan ruang baca merupakan bagian pokok dalam layanan perpustakaan, selain layanan sirkulasi dan teknis.
Sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat, layanan ruang baca dirasakan menjadi penting. Dengan adanya ini interaksi antara pustakawan dan penbacanya dapat berlangsung dengan baik. Dialog dengan petugas perpustakaan jadi baik, sehingga terjadi memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Dr. Moctar Buchori dalam diskusi panel perpustakaan nasional pada tanggal 24 oktober 1992, dalam rangka memperingati 40 tahun pendidikan perpustakaan di Indonesia.

Dalam sjian ruang baca di bagi menjadi:
1. Layanan ruang baca buku rujukan.
Ruangan ini khusus diperuntukan layanan rujukan di perpustakaan. Bahan pustaka merupakan bahan rujukan.
Contoh bahan gelobe dalam ruangan tersebut disediakan gantungan gelobe beserta kursi atau alat lain untuk menggunakannya.
2. Layana ruang baca stusy carrel biasanya berupa meja dan kursi.
Sebuah meja yang ditutup bagian depan dan sampingnya,guna mendapatkan konsentrasi para pembaca. Dilengkapi lampu untuk pencahayaan, stopkontak listrik. Meja yang di perlengkapi seperti itu diseebut wet carrel.
3. Layanan ruang baca berupa meja kelompok.

ruang jenis ini terdapat di berbagai perpustakaan. Guna menampung pembaca di satu tempat.
Memiliki kelemahan dapat saling mengganggu dengan pembaca yang lain. Keunggulannya dapat menghemat ruang,dapat berdiskusi tukar informasi dengan pembaca lain. Dan dapat menumbuhkan motifasi membaca dengan baik karena melihat pembaca yang lain tenang.

4. Fasilitas ruang baca yang baik.
Ruang baca hendaknya dilengkapi dengan fasilitas, missal AC,jendela yang besar untuk sirkulasi udara yang baik. Pencahayaan yang baik tidak kurang dan tidak mengganggu ppembaca. Dianjurkan perpustakaan memiliki pengontrol sinar untuk mengatur tingkat keperluannya.
5. Perluasan ruang baca berupa ruang untuk diskusi.
Ruangan ini merupakan perluasan ruang baca yang di gunakan untuk berdiskusi. Membawa bahn pustaka dengan jumlah tertentu para pembaca berdiskusi bersama. Harus terjadwal dengan topik diskusi yang sudah dipersiapkan.

6. Ruang baca yang berupa ruang kerja bagi pembaca perpustakaan
Suatu ruangan yang disediakan untuk remaja atau anak-anak sesuai tempat mereka bekerja. Pekerjaan menggambar, menempel, menggunting,menyulam dll. Meskipun membutuhkan biaya yang sangat besar namun nilai kegiatan ini juga tinggi. Tentunya perpustakaan menyediakan buku yang cocok untuk prakarya semacam itu.

7. Ruang santai
Bila mungkin dibuatkan ruang ini. Di pergunakan jika pembaca sudah lelah belajar dapat menyegarkan diri kembali. Dengan fasilitas yang nyaman seperti kursi sofa,bacaan ringan,audio video dll.

Cara Meningkatkan Layanan Mutu Perpustakaan

17.59

Upaya untuk meningkatkan mutu layanan tidak boleh di pisahkan dengan kegiatan pustakawan sehari-hari. Bnyak upaya yang dapatdi kerjakan,misalnya:

1. Sikap yang ramah dan penampilan pustakawan yang baik dalam memberikan layanan.


sikap yang ramah adalah faktor dari keberhasilan atau tidak dalam memberikan pelayanan untuk pembaca. Melalui penampila yang baik dan penuh rasa ikhlas memberikan bantuan kepada pembaca akan mendapatkan nilai positif bagi pembaca sehingga pembaca merasakan nyaman. Dan dapat menarik perhatian lebih dari pembaca.


2. Menyediakan brosur tentang kegiatan yang ada di perpustakaan .


Dengan brosur dapat juga meningkatkan mutu pelayanan. Dengan brosur ini pustakawan memberikan informasi kegiatan apa saja yang sudah dan akan di lakukan,dengan kata lain brosur dapat diartikan sebagai iklan. Dalam brosur itu berupa daftar buku yang baru,daftar bibiliografi atau program kegiatan. Tentunya ya membutuhkan dana yang cukup besar untuk itu di siapkan anggaran khusus.


3. Mengadakan berbagai perlombaan. ( lomba membaca,menggambar, membaca puisi dan sebagainya ).


Perlombaan itu dimaksudkan agar para pemakai datang ke perpustakaan Mungkin kalo diundang biasa tidak akan dating api kalo ada perlombaan mungkin berkesan berbeda. Misalkan diadakan perlombaan berpidato, para peserta akan membutuhkan bahan untuk berpidato dan mereka akan mencari dengan membaca di pepustakaan. Selanjutnya disodori formulir keanggotaan tentunya kalo sudah terbiasa dating keperpustakaan.


4. Mengadakan stady tour ke berbagai perpustakaan.


Kegiatan ini dapat di ajukan terjadwal dengan baik, dari perpustakaan satu ke yang lain, mereka dapat menemukan informasi yang lebih. Dengan kegiatan ini juga dapat mengajarkan bagaimana mengadakan penlitian tentang perpustakaan, untuk mendapatkan ide yang baru.


5. Mengundang tokoh masyarakat atau pakar untuk berceramah menceritakan pengalaman mereka dan sebagainya.


Kegiatan ini dilakukan oleh pustakawan dan diatur sedemikian rupa. Pustakawan mengundang berbagai tokoh masyarakat missal penulis yang sukses. Dengan menceritakan di balik kesuksesannya. Bagaimana proses seorang anggota masyarakat sederhana dapat mencapai kesuksesan. Tokoh tersebut menceritakan semua itu tidak lain hanya karena membaca. Hal ini akan memmicu para pendengar cerita dan mendapatkan pengalaman tambahan dari cerita si tokoh tersebut. Bahwa perpustakaan dapat meningkatkan sumberdaya manusia.


6. Membuat kegiatan yang teratur, memetik dari bahan yang dimiliki perpustakaan.


Pustakawan dapat menggali potensi yang ada di perpustakaan. Missal mengadakan seminar di sebuah lingkungan masyarakat. Dan bahan seminar tersebut dari sebuah buku yang dimiliki perpustakaan. Selanjutnya para pembaca dipersilahkan untuk mencari bahan yang terlah di seminarkan atau didiskusikan.


7. Berbagai kegiatan lainnya yang tidak tertulis di atas.

Praktik Aplikasi Komputer

18 Okt 2011 03.33

Tugas aplikasi komputer cds/isis individu pada perpustakaan erlangga
TUGAS PENGOLAHAN KATA
TUGAS PRAKTIK APLIKASI KOMPUTER PENGOLAHAN KATA
TUGAS PRAKTIK PENGOLAHAN KATA
TUGAS PROGRAM APLIKASI WINDOWS
TUGAS MICROSOFT ACCESS 1
TUGAS KELOMPOK CDS/ISIS
TUGAS MICOSOFT EXCEL 2

TUGAS PENGELOMPOKAN JENIS APLIKASI
TUGAS PERSENTASE CDS/ISIS
http://www.mediafire.com/download.php?w3yq5z5kgt4

By : 4stika.blogspot.com

Silahkan dipelajari gan ...

Pelestarian Bahan Pustaka

26 Sep 2011 17.33

Pengantar, Tujuan dan Fungsi Pelestarian

Bahan pustaka adalah salah satu unsur penting dalam sebuah sistem perpustakaan, sehingga harus dilestarikan mengingat nilainya yang mahal. Bahan pustaka di sini berupa terbitan buku, berkala (surat kabar dan majalah), dan bahan audiovisual seperti audio kaset, video, slide dan sebagainya.

Pelestarian bahan pustaka tidak hanya menyangkut pelestarian dalam bidang fisik, tetapi juga pelestarian dalam bidang informasi yang terkandung di dalamnya.

Maksud pelestarian ialah mengusahakan agar bahan pustaka yang kita kerjakan tidak cepat mengalami kerusakan. Bahan pustaka yang mahal, diusahakan agar awet, bisa dipakai lebih lama dan bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan.


Tujuan pelestarian bahan pustaka dapat disimpulkan sebagai berikut:

menyelamatkan nilai informasi dokumen

menyelamatkan fisik dokumen

mengatasi kendala kekurangan ruang

mempercepat perolehan informasi

Pelestarian bahan pustaka memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

melindungi

pengawetan

kesehatan

pendidikan

kesabaran

sosial

ekonomi

keindahan

Berbagai unsur penting yang perlu diperhatikan dalam pelestarian bahan pustaka adalah: Berbagai unsur penting yang perlu diperhatikan dalam pelestarian bahan pustaka adalah:

manajemen

tenaga yang merawat bahan pustaka

laboratorium

dana

Sejarah Bahan Pustaka dan Cara Perawatannya

Bahan pustaka terdiri atas berbagai jenis dan bermacam sifat yang dimilikinya. Dari sejarahnya, manusia menggunakan berbagai medium untuk merekam hasil karya mereka. Bahan yang dipergunakan sesuai dengan pengetahuan manusia serta teknologi pada zamannya.

Bahan yang dikenal sebagai medium perekam hasil budaya manusia adalah:
(1) tanah liat,
(2) papyrus,
(3) kulit kayu,
(4) daun tal atau lontar,
(5) kayu,
(6) gading,
(7) tulang,
(8) batu,
(9) logam (metal),
(10) kulit binatang,
(11) pergamen (parchmental) dan vellum,
(12) leather (kulit),
(13) kertas,
(14) papan,
(15) film,
(16) pita magnetik,
(17) disket,
(18) video disk dan lain-lain.

Semua bahan di atas bisa digolongkan sebagai bahan pustaka.

Pustakaan dewasa ini terbuat dari kertas. Sedangkan di masa mendatang mungkin isi sebuah perpustakaan berupa kumpulan disket, karena teknologi komputer memungkinkan demikian.



Kertas bisa dibuat dari berbagai serat yaitu:

serat binatang

serat bahan mineral

serat sintetis

serat keramik

serat tumbuh-tumbuhan.

Kekuatan kertas tergantung dari kekuatan serat sebagai bahan dasarnya.

Bahan pustaka yang lain ialah bahan non-buku yang juga disebut bahan audiovisual, media teknologi, alat peraga dan sebagainya. Materi bahan non-buku begitu bervariasi. Karena itu dalam memelihara bahan non-buku diperlukan berbagai keahlian dan keterampilan khusus. Kita harus memahami apa yang disebut dengan hardware atau perangkat keras dan software atau perangkat lunak. Harus kita fahami cara meng-operasikan peralatan, cara memperbaiki kalau ada kerusakan, dan bisa memeliharanya sehingga bahan-bahan tersebut awet dan lestari.

Macam Perusak Bahan Pustaka

Selain manusia dan hewan, debu, jamur, zat kimia dan alam semesta juga bisa merusak bahan pustaka. Agar bahan pustaka tidak lekas rusak, setiap pustakawan harus mengetahui cara-cara merawat bahan pustaka. Karena itu, setiap pustakawan hendaknya mengetahui cara menyusun kembali dan mengangkut buku untuk dikembalikan ke rak, cara mengontrol buku yang dikembalikan oleh pembaca apakah pembaca merusakkan buku atau tidak. Mencegah masuknya binatang mengerat dan serangga ke perpustakaan juga merupakan hal penting yang harus diketahui seorang pustakawan. Begitu pula cara menghindari debu masuk ke perpustakawan cara, mengontrol suhu dan kelembaban ruangan.

Tempatkan kapur barus dan akar “loro setu” di antara buku-buku agar serangga segan menghampirinya. Yang paling baik ialah menyediakan ruangan khusus untuk perbaikan bahan pustaka dengan petugasnya sekaligus, sehingga kalau diperlukan perbaikan bahan pustaka, dapat dikerjakan dengan cepat. Jangan menunggu kerusakan menjadi lebih berat.

Cepatlah bertindak, jagalah selalu kebersihan dan kerapihan sehingga mengundang pembaca untuk memakai perpustakaan dengan baik, dan bagi pustakawan sendiri akan semakin senang bekerja dengan baik.




Perbaikan Bahan Pustaka dan Restorasi

Sebagai pustakawan kita harus dapat memperbaiki dokumen yang rusak, baik itu kerusakan kecil maupun kerusakan berat. Perpustakaan sebaiknya memiliki ruangan khusus untuk melakukan pekerjaan ini. Menambah buku berlubang oleh larva kutu buku atau sebab lainnya, menyambung kertas yang robek, atau menambal halaman buku yang koyak adalah pekerjaan yang mesti dapat dikerjakan. Mengganti sampul buku yang rusak total, menjilid kembali, atau mengencangkan penjilidan yang kendur adalah pekerjaan yang harus dikuasai oleh seorang restaurator. Berbagai macam kerusakan yang lain yang mungkin terjadi, tidak boleh ditolak oleh bagian pelestarian ini. Peralatan yang diperlukan, serta bahan dan cara mengerjakan perbaikan ini harus dipelajari benar-benar oleh seorang pustakawan atau teknisi bagian pelestarian.

PENCEGAHAN KERUSAKAN BAHAN PUSTAKA

Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka

Setiap pustakawan harus dapat mencegah terjadinya kerusakan bahan pustaka. Kerusakan itu dapat dicegah jika kita mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.

Faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka bermacam-macam bisa oleh manusia, oleh tikus, oleh serangga, dan lain-lain. Penggunaan sistem pengumpanan, peracunan buku, penuangan larutan racun ke dalam lubang rayap, memberikan lapisan plastik pada lantai dan menempatkan kapur barus di rak merupakan cara untuk dapat mencegah kerusakan bahan pustaka. Tentu saja pencegahan yang berhasil akan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi perpustakaan.

Dalam kegiatan belajar 2 dibicarakan cara mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur,oleh banjir,oleh api, dan oleh debu. Dalam mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur disarankan agar kelembaban udara ruangan harus dijaga tidak lebih dari 60% RH.

Kapur sirih,arang ,silicagel atau mesin penyerap uap air yang bernama DEHUMIDIFIER dapat digunakan untuk menyerap uap air. Pemeriksaan kelembaban udara ruangan dan pembubuhan obat anti jamur pada buku merupakan salah satu cara mencegah kerusakan bahan pustaka.

Pencegahan kerusakan bahan pustaka karena banjir dapat dilakukan dengan cara membersihkan lumpur dan pengeringan bahan pustaka. Hendaknya bahaya banjir bisa diantisipasi. Kerusakan oleh api dapat dicegah dengan menghindari kebakaran di antaranya dengan memeriksa kondisi kabel listrik secara rutin, penyediaan alat pemadam kebakaran, serta adanya aturan yang ketat misalnya dilarang merokok.




FUMIGASI, DEASIDIFIKASI, DAN LAMINASI

Fumigasi

Agar bahan pustaka bebas dari penyakit, kuman, serangga, jamur, dan lainnya, bahan pustaka perlu diasapkan dengan bahan kimia tertentu yang disebut dengan fumigasi. Dalam mengadakan fumigasi pustakawan harus memperhitungkan jumlah bahan yang akan difumigasi dan luas ruang yang diperlukan. Dengan memperhatikan ruang yang ada maka dipilih pula fumigant yang akan dipergunakan, jenis-jenis fumigant, jumlah yang diperlukan serta lama fumigasi.

Pustakawan juga harus memperhatikan bahaya dari pemakai zat-zat kimia untuk fumigasi. Tidak satu pun bahan kimia dapat dipakai tanpa alat pengaman, atau tanpa supervisi oleh orang yang berpengalaman dalam bidang ini.

Menghilangkan Keasaman pada Kertas

Keasaman yang terkandung dalam kertas menyebabkan kertas itu cepat lapuk, terutama kalau kena polusi. Bahan pembuat kertas merupakan bahan organik yang mudah bersenyawa dengan udara luar. Agar pengaruh udara tersebut tidak berlanjut, maka bahan pustaka perlu dilaminasi. Agar laminasi efektif, sebelum dikerjakan, bahan pustaka dihilangkan atau diturunkan tingkat keasamannya. Ada dua cara menghilangkan keasaman pada bahan pustaka, yaitu cara kering dan cara basah. Sebelum ditentukan cara yang mana yang tepat, maka perlu diukur tingkat keasaman pada dokumen. Ada berbagai alat pengukur tingkat keasaman dokumen yang dibicarakan dalam bahan pustaka ini, sehingga pustakawan dapat memilih cara mana yang paling mungkin untuk dikerjakan sesuai dengan kondisinya.

Tinta yang dipergunakan untuk menulis bahan pustaka sangat menentukan apakah bahan pustaka akan dihilangkan keasamannya secara basah, atau secara kering. Kalau tinta bahan pustaka luntur, maka cara keringlah yang paling cocok. Kalau menggunakan cara basah, harus diperhatikan cara pengeringan bahan pustaka yang ternyata cukup sukar dan harus hati-hati. Kalau hanya sekedar mengurangi tingkat keasaman kertas dan tidak akan dilaminasi, kiranya cara kering lebih aman, sebab tidak ada kekhawatiran bahan pustaka robek. Cara kering ini dapat diulang setiap enam bulan, sampai bahan pustaka dimaksud sudah kurang keasamannya dan dijamin lebih awet.

Laminasi dan Enkapsulasi

Setelah kertas dihilangkan atau dikurangi sifat asamnya, maka untuk memperpanjang umur bahan pustaka perlu diadakan pelapisan atau laminasi, terutama bahan pustaka yang lapuk atau robek sehingga menjadi tampak kuat atau utuh kembali. Ada 2 cara laminasi yaitu laminasi dengan mesin dan dengan cara manual.

Pertimbangan yang perlu diambil dalam melaminasi suatu bahan adalah bahan tersebut harus bersih dan dikurangi tingkat keasamannya. Cara lain selain laminasi adalah enkapsulasi. Enkapsulasi adalah salah satu cara melindungi kertas dari kerusakan fisik misalnya rapuh karena umur. Yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan enkapsulasi adalah kertas harus bersih, kering dan bebas asam.


PENJILIDAN

Mengenal Bahan Jilidan

Buku bukan merupakan tumpukan kertas yang berdiri sendiri, tapi merupakan struktur yang satu sama lain saling terikat. Struktur buku terdiri atas: segi, foredge, kertas hujungan, badan buku, papan jilidan, ikatan timbul, groove, tulang pita kapital dan sebagainya. Agar struktur itu tidak lepas satu sama lainnya, maka buku perlu dijilid.

Perlengkapan penjilidan meliputi: pisau, palu, pelubang, gunting, tulang pelipat, penggaris besi, kuas, gergaji, jarum, benang, pengepres, pemidang jahit, mesin potong dan sebagainya.

Mutu kualitas jilid selain ditentukan oleh kemahiran dalam bekerja juga ditentukan oleh bahan yang digunakan.

Bahan penjilid meliputi kertas, kain linen, perekat, benang dan kawat jahit. Arah serat kertas merupakan hal yang penting bagi pekerjaan penjilidan. Arah serat yang salah akan mengakibatkan jilidan tidak rapi dan lemah.

Menyiapkan Penjilidan dan Jenis-jenis Penjilidan

Sebelum dijilid, buku perlu dipersiapkan secara baik. Kekeliruan atau kekurangan dalam persiapan, dapat berakibat fatal dan mengecewakan. Juga merupakan pemborosan jika harus dijilid ulang. Persiapan penjilidan meliputi dua hal yaitu: (1) penghimpunan kertas-kertas atau bahan pustaka, (2) penggabungan. Penghimpunan harus dikerjakan secara teliti, jangan salah mengurutkan nomor halaman. Kalau majalah, jangan salah mengurutkan nomor penerbitannya. Panjang-pendek, serta lebar kertas harus disamakan. Rapihkan sisi sebelah kiri agar pemotongan dan perapihan dapat dikerjakan untuk ketiga sisi yang lain. Petunjuk penjilidan harus disertakan, agar hasilnya sesuai dengan yang kita kehendaki.

Dalam melakukan penggabungan kita harus melihat jilidan macam apa yang dikendaki sesuai dengan slip petunjuk penjili dan.

Ada lima macam jilidan yang dapat dipilih: (1) jilid kaye, (2) signature binding, (3) jilid lem punggung, (4) jilid spiral, (5) jilid lakban.

PETA, SLIDE, FOTO KOPI DAN TINTA

Pelestarian Koleksi Peta

Peta merupakan salah satu sumber informasi untuk menunjang penelitian, pendidikan, maupun untuk keperluan bisnis. Karena itu ada bermacam-macam jenis peta, misalnya peta geografis, peta perdagangan, peta bahasa, peta navigasi, peta hasil bumi dan sebagainya.

Pelestarian koleksi peta merupakan pengetahuan yang harus dimiliki oleh petugas perpustakaan maupun oleh petugas bagian pelestrian. Peta adalah bahan pustaka yang unik, sebab bentuk dan ukuran, serta informasi yang terkandung di dalamnya begitu beraneka ragam. Dengan banyaknya bentuk dan ukuran tersebut maka diperlukan ruang penyimpanan yang beragam pula.

Berbagai jenis kerusakan pada peta antara lain kerusakan karena faktor kimiawi dan kerusakan karena faktor mekanis.

Slide

Slide merupakan salah satu jenis bahan audio-visual yang banyak dipergunakan di perpustakaan terutama untuk mendukung pengajaran dan penelitian.

Slide juga memerlukan pemeliharaan secara hati-hati. Tempat penyimpanan harus bebas dari cahaya langsung dari luar, debu serta kelembaban. Slide yang berserakan akan mudah rusak karena kena debu serta goresan.

Slide tidak dapat dibaca dengan mata telanjang. Untuk membaca slide, harus menggunakan alat yang disebut proyektor. Karena itu proyektor harus selalu dirawat agar slidenya dapat dimanfaatkan setiap saat.

Foto Kopi dan Tinta

Dewasa ini banyak perpustakaan menggunakan foto kopi terutama untuk melestarikan koleksinya yang sudah rusak dan langka, sehingga bisa dipinjamkan pada pemakai. Tetapi foto copi sebagai sarana pelestarian dokumen masih kontroversi.

Tinta ternyata merupakan komponen pembuat buku yang sangat penting dan beraneka ragam. Sejak 2.500 tahun Sebelum Masehi tinta sudah dikenal oleh bangsa Mesir dan bangsa Cina. Sampai ditemukannya mesin cetak pada pertengahan abad ke-15, tinta tulis memiliki peranan yang paling penting dalam produksi buku. Setelah mesin cetak diketemukan, bentuk tintanyapun menyesuaikan dengan keperluan percetakan. Tentu saja banyak variasi soal kualitas, warna dan harganya. Tiga macam jenis tinta ialah: 1) tinta tulis, 2) tinta ball point dan 3) tinta cetak.

Tinta juga dapat meningkatkan keasaman pada kertas, sehingga dengan jenis tinta tertentu misalnya iron gall dapat merusak kertas dengan cepat.

PELESTARIAN NILAI INFORMASI

Bentuk Mikro

Dalam mengatasi kekurangan tempat atau ruangan di perpustakaan dan juga melestarikan informasi dari buku-buku yang sudah lapuk, maka diperlukan alih bentuk dokumen. Alih bentuk yang terkenal ialah bentuk mikro atau lazim disebut mikrofilm. Kelebihan bentuk mikro adalah: hemat ruang, aman dari pencurian, mudah direproduksi dan murah, mudah diakses, akurat dan ekonomis.

Kekurangan bentuk mikro, misalnya harus memakai alat baca yang harganya cukup mahal, dan selalu berubah mutu serta semakin mahalnya alat baca menjadi kendala bagi perpustakaan. Membaca dengan alat baca yang kaku mengurangi kenyamanan pembacanya. Untuk mengatasi hal tersebut diberikan alternatif membuat hard copy yang dapat dibaca dan dibawa sekehendak pembacanya.

CD-ROM (Compact Disk-Read Only Memory)

Teknologi video disk, yang semula dicobakan untuk pelestarian di The Library of Congress tahun 1982, ternyata telah berkembang lebih maju untuk penyimpanan, pengolahan, dan penemuan informasi yang handal dewasa ini.

Sebagai pustakawan di zaman modern ini kiranya tidak salah kalau Anda mempunyai gambaran mengenai teknologi informasi yang memberikan banyak harapan bagi produksi, pengolahan, pemakaian dan pelestarian informasi. Kemudahan untuk menemukan kembali informasi yang telah disimpan dalam disk, misalnya dalam bentuk CD-ROM inilah yang memberikan prospek cerah bagi perkembangan layanan perpustakaan.

Sesuai dengan namanya, data atau informasi digital yang sudah direkam di dalam CD-ROM tidak dapat dihapus atau ditambah pemakai, tetapi hanya dapat dibaca saja oleh pemakai.

Beberapa keunggulan dari CD-ROM:

merupakan sarana penyimpanan informasi berkapasitas tinggi

memudahkan penelusuran literatur

tahan terhadap gangguan elektromagnetis

bagi perpustakaan CD-ROM memudahkan pembuatan katalog

mempercepat penerbitan

——————————————————————————–

PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA DI BERBAGAI NEGARA

Keadaan Pelestarian Bahan Pustaka di Inggris

Tokoh kawakan Languell yang menerbitkan bukunya tahun 1957 memberikan gagasan tentang perlunya pelestarian bahan perpustakaan pada masa itu. Melalui diskusi dan pertemuan tahunan dari asosiasi perpustakaan di Inggris, mereka semakin yakin bahwa bagian pelestarian makin diperlukan. Dengan bukunya yang baru terbit tahun 1991 John Feather melukiskan bahwa kegiatan pelestarian bahan pustaka tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan manajemen koleksi perpustakaan. Buku ini semakin memberikan kepercayaan bagi pustakawan di Inggris, bahwa bagian pelestarian sangat diperlukan. Berbagai masalah yang mereka hadapi, misalnya tentang mahalnya buku dan terbatasnya anggaran perpustakaan mengharuskan pustakawan untuk berpaling kepada pelestarian.

Faktor pendukung yang ada di Inggris, misalnya lengkapnya jenis bahan kimia untuk menghilangkan berbagai musuh bahan pustaka, tersedianya pengusaha komersial dalam bidang penjilidan atau dalam bidang pelestarian, memberikan kesempatan kepada para pustakawan untuk memilih cara terbaik dalam pelestarian bahan pustaka yang sesuai dengan kondisi di tempat mereka. Banyaknya perpustakaan rujukan yang telah berhasil melakukan program pelestarian seperti The British Library atau Universitas Cambridge, merupakan tempat yang baik bagi para pustakawan di Inggris untuk belajar langsung ke lapangan.

Keadaan Pelestarian di USA

Banyaknya faktor pendukung menyebabkan sistem pelestarian di Amerika Serikat sangat maju. Faktor pendukung tersebut di antaranya, para pakar yang dengan rajin memberikan konsultasi dan menuliskan pengalaman mereka pada majalah profesional maupun dalam bentuk buku yang jelas dan mudah diikuti. Persaingan sehat antara para pakar menimbulkan gairah kerja bagi mereka para pustakawan bagian pelestarian. Faktor pendukung yang lain ialah adanya penyangga dana dari yayasan atau pemerintah federal untuk proyek atau program pelestarian yang baik.

Faktor selanjutnya ialah adanya laboratorium yang dimiliki oleh perpustakaan besar, dan percobaan-percobaan yang mereka lakukan demi kemajuan bidang pelestarian. Adanya kepeloporan yang tangguh dalam menciptakan tenaga pelestarian terdidik, dari waktu ke waktu dan dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi.

Faktor pendukung lainnya ialah kesediaan bekerja sama antara perpustakaan yang satu dengan yang lain baik dari suatu daerah lokal, regional, sampai tingkat nasional. Sistem komunikasi yang mudah dan murah mendukung terselenggaranya kerja sama dalam pelestarian tersebut.

Keadaan Pelestarian di Puerto Rico (Amerika Latin)

Iklim daerah tropis sangat tidak mendukung pelestarian bahan pustaka. Haydee Munoz Sola memberikan gambaran program pelestarian yang ada di kampus Medical Services University of Puerto Rico di Rico Piedras. Sebelum masuk kepada permasalahannya ia menceritakan sedikit tentang sejarah perpustakaan dan sejarah pelestarian. Iklim tropis dengan berbagai ciri-cirinya yang dapat merusakkan koleksi perpustakaan dan banyaknya kendala yang harus dihadapi oleh perpustakaan di daerah tropis termasuk kurangnya anggaran untuk menyelenggarakan program pelestarian. Kemudian ia menceritakan letak geografis Puerto Rico yang banyak bencana alam seperti badai, banjir, angin puyuh dan sebagainya.

Perpustakaan kesehatan Puerto Rico memiliki koleksi khusus yang disebut The Ashford Collection, yang memiliki 3000 dokumen yang berupa buku dan korespondensi. Dokumen ini sangat penting untuk penelitian penyakit di daerah tropis. Karena itu perlu diawetkan.

ORGANISASI, LEMBAGA RISET, DAN LEMBAGA PENDIDIKAN BIDANG PELESTARIAN

Organisasi Lokal, Nasional, dan Internasional

Organisasi Bidang Pengawetan sangat berjasa dalam mengembangkan bidang ini. Mereka menyelenggarakan seminar, workshop dan pertemuan atau diskusi lainnya. Banyak buku petunjuk dibuat untuk disebarluaskan oleh organisasi ini. Begitu pula latihan keterampilan banyak diberikan oleh para organisasi tersebut.

Ada tiga macam organisasi bidang pelestarian yaitu: (1) organisasi lokal, (2) organisasi nasional, (3) organisasi internasional.

Yang dimaksud dengan organisasi lokal ialah organisasi yang sifatnya hanya berlaku lokal, menurut daerah-daerah tertentu. Di Indonesia tidak ada organisasi semacam ini.

Organisasi pelestarian yang bersifat nasional di Indonesia juga belum ada.

Lembaga Riset, dan Pendidikan Teknisi/Profesional

Lembaga riset penting untuk mendukung kehidupan dan perkembangan suatu profesi. Karena itu, kita sering menemukan R & D yang artinya Research & Development, sepasang kata yang bergandengan sebagai suatu sebab akibat dari suatu kegiatan. Penelitian diadakan untuk mencapai suatu perkembangan. Begitu pula dalam profesi pelestarian dan pengawetan dokumen, perlu diadakan berbagai penelitian untuk memperoleh perkembangan dalam bidang tersebut. Saat ini di Indonesia belum memiliki lembaga riset bidang pelestarian.

Jurusan ilmu perpustakaan Fakultas Sastra UI memberikan pendidikan pelestarian sebagai satu mata kuliah saja berjudul: Pelestarian dan Pemeliharaan Bahan Perpustakaan untuk program S1, S2 dan S0 perpustakaan dan D III Kearsipan.

Ada tiga jenis tenaga dalam bidang pelestarian yaitu:

Pustakawan untuk pelestarian, yang mengepalai Bagian Pelestarian di perpustakaan.

Konservator, yaitu orang yang langsung bertanggung jawab untuk memperbaiki dokumen.

Teknisi Bidang Konservasi.

Rencana Pembentukan Bagian Pelestarian untuk Perpustakaan

Dalam menentukan kebijakan program pelestarian, kita harus selalu melihat kepada keadaan fisik bahan perpustakaan. Ini dipergunakan sebagai titik tolak perbaikan, menentukan lama, dan skala prioritas pelestarian. Bagian pelestarian tidak kalah penting dengan bagian-bagian lain di perpustakaan. Bagian ini memang sangat penting untuk dimiliki karena dapat meningkatkan mutu pelayanan perpustakaan. Dengan adanya

bagian ini diharapkan sewaktu-waktu buku diperlukan sudah tersedia di rak. Kalau ada kerusakan cepat dapat diperbaiki.

Selanjutnya faktor-faktor lain yang harus diperhatikan ialah keadaan koleksi perpustakaan, apakah koleksi tersebut sudah memenuhi kebutuhan pembaca, apakah koleksi tersebut banyak rusak atau koleksi tersebut tidak perlu dilestarikan. Faktor kedua adalah penggunaan koleksi secara padat atau tak pernah digunakan sama sekali. Faktor selanjutnya ialah tuntutan pemakai yang selalu menghendaki koleksi yang rapih. Faktor bangunan dan ruangan tempat menyimpan buku juga diperhatikan. Dalam melestarikan koleksi ada tiga hal yang diperhatikan yaitu: 1) Bahan apa saja yang perlu dilestarikan?, 2) Untuk berapa lama bahan dilestarikan?, 3) Alat-alat apa yang dipergunakan untuk melestarikan? Dalam melestarikan bahan pustaka kita harus melihat: 1) subjek, 2) format, 3) usia bahan, 4) penggunaan bahan.

Mengenai lama bahan dilestarikan itu tergantung dari keperluan perpustakaan. Pembentukan suatu program pelestarian di suatu perpustakaan dapat dimulai setelah semua fihak dari bagian-bagian lain perpustakaan menyetujuinya.

Sesudah semuanya jelas, maka dapat disusun pedoman tentang kebijakan pelestarian yang dapat dipakai oleh pihak pimpinan untuk membentuk program pelestarian di perpustakaan tersebut untuk kepentingan pelestarian.

Program pelestarian bahan perpustakaan di suatu perpustakaan tidak akan sama dengan program pelestarian yang dimiliki perpustakaan lain. Karena itu suatu model yang paling canggih pun tidak akan dapat memenuhi keperluan bagi semua perpustakaan

Organisasi Informasi Perpustakaan Berbasis Teknologi dan Tantangannya

12 Sep 2011 20.39

Pendahuluan
Penyajian informasi dan organisasi berarti menciptakan catalog dan index untuk penerbitan tentang semua yang melekat dalam objek. Yang meliputi uraian atribut tentang suatu dokumen dan penyajian tentang isi intelektualnya. Perpustakaan telah lama melakukan perekaman data tentang dokumen dan penerbitan. Proses inipun telah dilakukan puluhan tahun yang lalu. Proses Index dan catalog perpustakaan digunakan untuk membantu para pemakai menemukan kembali dan menempatkan suatu dokumen dengan baik. Arsip di dalam alat pencarian informasi yang baik diharapkan menyediakan akses yang baik sehingga dapat digunakan dengan mudah.

Standarisasi catalog dan index sangat perlu dilakukan karena kerjasama antar perpustakaan secara elektronik telah berkembang bersamaan dengan berkembangnya teknologi saat ini sehingga memungkinkan untuk melakukan pertukaran sumberdaya yang dimiliki. Proses kerjasama dalam tukar menukar atau penggabungan informasi hanya dapat dilakukan jika memiliki format sama dalam penulisan catalog dan indexnya.

Perpustakaan sering terjadi mengembangkan pengolahan perpustakaannya tidak memperhatikan standarisasi yang ada. Sehingga ketika dilakukan tukar-menukar ataupun penggabungan informasi banyak sekali masalah. Sehingga membutuhkan waktu untuk melakukan konversi. Sementara pekerjaan konversi adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu yang sangat lama karena harus selalu melakukan koordinasi yang rutin baik untuk tingkat pengambil keputusan maupun di tingkat pelaksana untuk menemukan titik yang sama.

Selain masalah catalog permasalahan lain timbul dalam penggunaan bahasa. Perpustakaan di Indonesia menggunakan bahasa pengantar yang berbeda ada yang menggunakan bahasa Indonesia ada juga yang menggunakan bahasa inggris. Perbedaan bahasa akan ditemukan lagi jika akan dilakukan penggabungan ataupun pertukaran informasi antar Negara.

Standarisasi
Standarisasi catalog dan index yang digunakan saat ini adalah menggunakan standar dari Machine Readable Cataloging (MARC) merupakan salah satu hasil dan juga sekaligus salah satu syarat penulisan katalog koleksi bahan pustaka perpustakaan. Standar metadata katalog perpustakaan ini dikembangkan pertama kali oleh Library of Congress, format LC MARC.

Standard MARC mulai banyak dikembangkan salah satunya adalah format INDOMARC merupakan implementasi dari International Standard Organization (ISO) Format ISO 2719 sebuah format untuk tukar-menukar informasi bibliografi melalui format digital atau media yang terbacakan mesin (machine-readable) lainnya. Informasi bibliografi biasanya mencakup pengarang, judul, subyek, catatan, data penerbitan dan deskripsi fisik. Indomarc menguraikan format cantuman bibliografi yang sangat lengkap terdiri dari 700 elemen dan dapat mendeskripsikan dengan baik objek fisik sumber pengetahuan.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang berbasis internet maka standarisasipun perlu dilakukan agar data dapat ditampilkan dalam format web. Standarisasi catalog berbasis web yang sangat berkembang saat ini adalah Dublin Core.

Dublin Core merupakan salah satu skema metadata yang digunakan untuk web resource description and discovery. Standard ini dipengaruhi oleh rasa kurang puas dengan standar MARC yang dianggap terlalu banyak unsurnya dan beberapa istilah yang hanya dimengerti oleh pustakawan serta kurang bisa digunakan untuk sumber informasi dalam web. Namun elemen Dublin Core dan MARC intinya bisa saling dikonversi.

Saya mengambil contoh Metadata Dublin Core dari sekian standard yang ada. Dublin Core memiliki beberapa kekhususan sebagai berikut:
a. Memiliki deskripsi yang sangat sederhana
b. Semantik atau arti kata yang mudah dikenali secara umum.
c. Expandable memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Dublin Core terdiri dari 15 unsur yaitu :
1. Title : judul dari sumber informasi
2. Creator : pencipta sumber informasi
3. Subject : pokok bahasan sumber informasi, biasanya dinyatakan dalam bentuk kata kunci atau nomor klasifikasi
4. Description : keterangan suatu isi dari sumber informasi, misalnya berupa abstrak, daftar isi atau uraian
5. Publisher : orang atau badan yang mempublikasikan sumber informasi
6. Contributor : orang atau badan yang ikut menciptakan sumber informasi
7. Date : tanggal penciptaan sumber informasi
8. Type : jenis sumber informasi, nover, laporan, peta dan sebagainya
9. Format : bentuk fisik sumber informasi, format, ukuran, durasi, sumber informasi
10. Identifier : nomor atau serangkaian angka dan huruf yang mengidentifikasian sumber informasi. Contoh URL, alamat situs
11. Source : rujukan ke sumber asal suatu sumber informasi
12. Language : bahasa yang intelektual yang digunakan sumber informasi
13. Relation : hubungan antara satu sumber informasi dengan sumber informasi lainnya.
14. Coverage : cakupan isi ditinjau dari segi geografis atau periode waktu
15. Rights : pemilik hak cipta sumber informasi

Elemen diatas sering sekali diabaikan oleh pengembang perpustakaan lokal, dengan berbagai alasan dan pertimbangan (tingkat kesulitan dan harga), sementara elemen ini justru sangat penting bagi perpustakaan yang akan melakukan pengembangan ke arah digitalisasi.

Beberapa bentuk penerapan teknologi informasi dalam perpustakaan, yaitu Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan. Seluruh pekerjaan dapat diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakaan. Mulai dari pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik dan lain sebagainya. Alat: Teknologi informasi sebagai alat untuk menyimpan, mendapatkan (temu kembali informasi) dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Brand: Perpustakaan yang memiliki pemanfaatan teknologi secara maksimal maka perpustakaan tersebut akan sangat mudah dikenal (terkenal). Sehingga para pengguna dapat dengan mudah mencari rujukan.

Digitalisasi menuju Digital library
Dunia yang semakin datar yang diawali kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) sangat jelas terlihat mempengarui seluruh sisi kehidupan, dan tentu akan sangat mempengaruhi perkembangan perpustakaan di Indonesia.

Dengan perkembangan ICT maka munculah banyak istilah tentang perpustakaan antara lain Istilah e-library (perpustakaan elektronik), digital library (perpustakaan digital), virtual library (perpustakaan maya), automated library (perpustakaan terotomasi), dan hybrid library (perpustakaan kombinasi). Istilah tersebut merupakan model pengembangan perpustakaan yang berbasiskan ICT yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalah yang berkembanga saat ini.

Perpustakaan konvensional biasanya terdiri dari fisik, format cetak, membeli koleksi dan fotocopy, peminjaman/pengembalian fisik, jumlah terbatas, terbatas ruang dan waktu. Sedangkan untuk perpustakaan Digital bersifat virtual, format digital, berlangganan dan digitalisasi, tayangan langsung / download / cdrom, jumlah unlimited, komputer / online 24/7.

Konten dari perpustakaan digital sama seperti seperti perpustakaan konvensional hanya bentuknya berubah menjadi digital. Konten terdiri dari e-book, skripsi/thesis, journal, modul, presentation, video, audio/music, karya seni.

Berikut ini adalah perkembangan teknologi perpustakaan yang digunakan mulai dari perpustakaan tradisional hingga perpustakaan digital:

Perpustakaan Tradisional
Pada perpustakaan tradisional aturan atau standarisasi sudah dilakukan misalnya dengan menggunakan AACR2, Anglo-American Cataloguing Rules, Second Edition. Yang didesain untuk konstruksi katalog dan daftar tugas umum perpustakaan; CC / LCCS Library of Congress Clasification; DDC / UDC universal decimal Dewey Decimal Classification (DDC) and the Universal Decimal Classification (UDC); Thesauri/LCSH Library of Congress Subject Headings

Perpustakaan otomasi
Perpustakaan otomasi: adalah semua proses sudah terotomasi dengan baik, sehingga proses pelayanan kepada pengguna jauh lebih cepat dan mudah. Layan perpustakaan yang diotomasi itu adalah: teknis operasional; Akuisisi (pengadaan, penelurusan informasi, seleksi, pemesanan, penerimaan); Pengolahan (Katalogisasi, klasifikasi, pengindeksan. Membuat bibliografi); Pelayanan (Sirkulasi, PAC,SDI. Statistik); Pemeliharaan/Perawatan; Administrasi antara lain surat menyurat.
Aturan atau standarisasi perpustakaan yang telah terotomasi masih menggunakan aturan yang lama dengan pengembangannya antara lain AACR2 Anglo-American Cataloguing Rules, Second Edition. Yang didesain untuk konstruksi katalog dan daftar tugas umum perpustakaan; ISO 2709 Format untuk informasi bibliografi Information di media magnetic Tape; CCF singkatan dari Common Communication Format yang dikembangkan oleh Unesco; MARC Machine Readable Cataloging.
Perpustakaan Digital
Perpustakaan digital (Digital Library) adalah suatu perpustakaan yang koleksi disimpan di format yang digital (sebagai lawan cetakan, microform, atau media yang lain) dan dapat diakses oleh computers. Konten digital dapat disimpan di tempat lokal, atau diakses melalui jaringan komputer. Perpustakaan digital adalah jenis sistem temu kembali informasi.

Perpustakaan digital sangat besar manfaatnya, selain untuk arsip pemeliharaan arsip DL juga digunakan antara lain untuk knowledge/content manajemen, mengelola dan mengakses informasi aset internal, pendidikan, penelitian, e-journal, e-print, e-books, e-learnging, akses koleksi budaya, e-governace, memberikan akses kebijakan pemerintahan, rencana, prosedur, regulasi dan masih banyak lagi.

Dengan terlahirnya Undang-undang Perpustakaan (UU no. 43/2007) sebagai payung hukum penyelenggaraan perpustakaan di Indonesia diharapkan akan membangkitkan lagi kesadaran kita untuk lebih memperhatikan penyelenggaraan perpustakaan dan pemberdayaannya.

Melalui UU 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, pemerintah mengharapkan para pengelola perpustakaan di lembaga swasta maupun di lembaga pemerintah seperti Perpusda dan setaranya, untuk melakukan pengembangan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang.

Dengan penerapan Teknologi Informasi yang tepat, pengelolaan perpustakaan akan lebih cepat dan efisien, juga standart layanan kepada masyarakat pengguna dapat ditingkatkan, bagi pengguna sendiri akan sangat terbantu karena banyak kemudahan yang ditawarkan.
Pasal 19 (ayat1) Pengembangan perpustakaan merupakan upaya peningkatan sumber daya, pelayanan, dan pengelolaan perpustakaan, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. (Ayat 2) Pengembangan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan karakteristik, fungsi dan tujuan, serta dilakukan sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. (Ayat 3) Pengembangan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan secara berkesinambungan.

Aturan atau standarisasi dalam perpustakaan digital mengalami banyak perkembangan mulai dari Metadata :informasi data, dokumentasi sekitar dokumen dan object; DCMI-W3C konsorsium standard bahasa berbasis web (Guidelines for implementing Dublin Core in XML); EAD, TEI, DTD Encoded Archival Description, Text Encoding and Interchange; METS,MODS, Z39.50 Metadata Object Description Schema (MODS); MARC21 pengembangan Machine Readable Cataloging berbasis Web.

Digital library sangat besar manfaatnya, selain untuk arsip pemeliharaan arsip DL juga digunkan antara lain untuk knowledge/content manajemen, mengelola dan mengakses informasi aset internal, pendidikan, penelitian, e-journal, e-print, e-books, e-learnging, akses koleksi budaya, e-governace, memberikan akses kebijakan pemerintahan, rencana, prosedur, regulasi dan masih banyak lagi.

Karakteristik Perpustakaan Digital
Sistem informasi elektronik yang dinamis: Kedinamisan sistem informasi ini terletak pada kemudahan dalam pengembangan sistem, seperti model pencarian dengan berbagai jenis aturan, tambal sulam sistem. Data-data elektronik dapat dimodifikasi, disimpan, ditampilkan dengan berbagai keinginan.
Pengumpulan dan Pengintegrasian dari Isi ilmiah. Obyek digital dapat dikumpulkan menjadi satu dengan menggunakan banyak kriteria.

Menciptakan / Memelihara Isi local: Menciptakan dan memelihara local content yang dipelihara dengan baik mejadi karakteristik tersendiri bagi perpustakaan. Dengan memperbanyak local konten maka perpustakaan manjadi tujuan utama pengguna, karena informasi yang diinginkan hanya terdapat pada perpustakaan tersebut, sehingga perpustakaan tersebut menjadi terkenal karena sering dikunjungi. Pengembangan local konten dapat berubah Jurnal, majalah, buku, multimedia yang berisi muatan local misalnya laporan penelitian, laporan pengabdian masyarakat, laporan kerja praktek, laporan kapki / kku / pkm, buku dies natalis, skripsi / thesis, modul kuliah, presentasi kuliah, seminar, rekaman video seminar, acara-acara khusus, rekaman audio, karya arsitektur (bentuk gambar) dan masih banyak lagi bentuk-bentuk multimedianya.

Memperkuat - mekanisme dan kapasitas sistim informasi / layanan: Sistem informasi layanan pada perpustakaan digital menjadi lebih banyak baik yang berkunjung secara fisik di perpustakaan, maupun yang berkunjung menggunakan media internet. Kapasitas konten yang tersimpan juga tidak dipengaruhi oleh berapa jumlah peminjam/pembaca.

Meningkat/Kan Portabilitas: konten perpustakaan dapat dengan mudah dipindah dari ruang satu ke ruang lain atau bentuk satu ke bentuk lain, sehingga sangat memudahkan para pengguna/pustakawan dalam pengelolaannya.
Efisiensi Akses : konten yang diakses mampu didapat dengan cepat dan tepat sesuai dengan dengan kebutuhan pengguna.

Fleksibel: konten dapat dipindahkan dari ruang satu ke ruang lain, content dapat direkayasa menjadi bentuk lain: misalnya di copy dan cetak.

Ketersediaan: konten perpustakaan yang ada tidak tergantung pada jumlah yang ada. Konten dapat di gandakan sesuai dengan keinginan. Sebagai missal peralatan multimedia dapat dipinjam untuk dilihat/didengarkan dengan jumlah pengunjung tak terbatas.

Pemeliharaan jangka panjang: konten perpustakaan digital memiliki umur jauh lebih lama dibandingkan dengan konten fisik. Konten fisik membutuhkan pemeriharaan / perlakuan yang istimewa karena bisa rusak. Sementara content digital dapat di peliharan / simpan dengan waktu yang cukup panjang dan dapat disimpan dalam berbagai media penyimpanan. Misalnya hardisk, CD/DVD dan tape.

Integrasi/organisasi: Perpustakaan digital memerlukan organisasi yang baik, organisasi sumber daya manusia, organisasi content. Pengintegrasian data yang diorganisasi dengan baik, akan menghasilkan informasi yang baik pula.

Hak cipta: Yakinkan bahwa konten yang di akses tidak melanggar hak cipta, sehingga pengguna maupun pihak perputakaan tidak khawatir dengan dampat dari akses digital tersebut.

Memerlukan Jalur pintu akses informasi tunggal: Desain akses data seharusnya menggunakan jalur satu akses informasi, agar informasi yang didapatkan akurat. Sering dilakukan oleh pihak perpustakaan bahwa akses dalam gedung dibuat berbeda dengan akses melalui internet. Data yang ditampilkan pada layanan di gedung, tidak sama dengan data yang ditampilkan di internet. Hal ini akan menyulitkan pengguna dalam peminjaman content. Meskipun pemisahan ini dilakukan seharusnya dilakukan sinkronisasi agar isinya sama.

Multi: pada perpustakaan digital banyak sekali multi yaitu multi format, multi media, dan multi platform. Format konten dapat disajikan dalam berbagai bentuk, misalnya .doc, pdf, mp3, mp4, flv, dat. Sedangkan multi media dapat berupa audio dan video dan dapat disimpan dalam banyak platform misalnya disimpan dalam sistem operasi Windows dan Linux.

Data encoding (role of markup languages): Penyandian data (encoding). Aturan ini digunakan untuk menjaga keamanan data. Data yang di tampilkan dalam web harus dilakukan penyandian agar tidak dapat dengan mudah dibaca oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Role of Metadata (role of Standards): standarisasi dari metadata sangat diperlukan agar pengembangan perpustakaan menjadi lebih mudah. Misalnya pada saat pengintegrasian dalam berbagai sistem operasi, maupun pengintegrasian lintas perpustakaan.

Structured Metadata (role of XML): aturan metadata pada pemrograman berbasis web juga harus sesuai dengan aturan yang ada, agar pengembangan berbasis web dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan dari Web itu sendiri.

Biaya: Biaya dalam pengembangan perpustakaan digital tentu melebihi pengembangan perpustakaan biasa. Karena membutuhkan hardware dan software dengan criteria tertentu. Selain itu juga biaya yng tidak kalah pentingnya adalah untuk pengembangan sumberdaya manusia.

Teknologi Perpustakaan Digital
Open architectures (Open DLs): diusahakan bahwa teknologi yang digunakan dalam pengembangan perpustakaan digital menggunakan dasar arsitektur terbuka. Mulai dari sisi perancangan, hardware maupun software. Hal ini sangat diperlukan dalam pengembangan kedepan, agar mudah dikembangkan oleh pihak lain sehingga teknologi yang ada dapat digunakan lama.

Componentized vs Monolithic Systems: pengembangan software dapat dikembangan berdasarkan komponen, dimana dapat ditambahkan/ditempelkan dalam sistem jika dibutuhkan. Atau dapat menggunakan software yang terbundel (monolitik) dimana software ini menggunakan sistem prosedur yang melekat pada sistem. Jika pengembangan menggunakan model komponen maka biaya dapat ditekan sesuai dengan kebutuhan kita saat ini. Software monolitik semua kebutuhan telah disediakan sesuai dengan pengembang, jika akan dikembangkan maka harus di runut satu persatu.

Metadata antar perpustakan: metadata ini sangat penting dalam pengembangan perpustakaan kedepan. Penggabungan atau perbagi konten perpustakaan sangat dimungkinkan terjadi, sehingga kesamaan metadata sangat diperlukan agar proses penggabungan lebih cepat dan mudah. Perbedaan standard metadata membutuhkan perangkat tambahan agar perpustakaan dapat digabungkan.

Multi bahasa: bahasa juga menjadi kendala dalam pengembangan perpustakaan. Misalnya masih banyak staf perpustakaan yang kurang dalam bahasa inggris, sementara software yang digunakan berbahasa inggris. Selain itu juga dalam penggabungan atau sharing antar perpustkaan akan sangat mudah jika menggunakan bahasa yang sama.

Publication tools dan Searching tools: peralatan dalam publikasi dan pencarian juga perlu diperhatikan dalam pengembangan sistem perpustakaan. Model pencarian tidak terpaku pada judul, pengarang, atau tahun terbit, tetapi pencarian diharapkan juga masuk dalam pencarian isi dari obyeknya. Sehingga pencari dapat dengan mudah menemukan dan tepat apa yang dibutuhkan.


Pemilihan Software
Goal: Untuk menentukan software yang diharapkan tentu harus mendefinisikan Visi dan Misi dan terlebih dahulu tujuan apa yang akan dicapai, dan syarat-sarat apa yang harus dipenuhi. Layanan apa saja yang akan kita berikan, sejauh mana layanan dapat dinikmati oleh pengguna.

Proprietary Vs Open Source: Dari goal yang diharapkan maka dapat menentukan model software apa yang akan digunakan proprietary (berbayar, terbundle) atau menggunakan open source. Dari kedua ini memiliki kelebihannya sendiri-sendiri. Proprietary tentu membutuhkan dana yang tinggi, dengan mendapatkan dukungan penuh dari pihak penyedia mulai dari instalasi hingga maintenance. Keandalan dan keakuratan softwarepun dapat dipertanggungjawabkan oleh penyedia. Kelemahan dari software ini adalah pengguna tidak dapat melakukan modifikasi sedikitpun tanpa dibantu oleh penyedia, sehingga ketergantungan dengan penyedia sangat tinggi.

Sementara software opensodurce : software dapat didapat dengan tidak berbayar. Dapat diinstall dengan bebas, source code dapat dilihat sehingga dapat dimodifikasi dengan mudah oleh pengguna. Dengan tidak berbayar maka dana dapat ditekan seminimal mungkin, dan dialihkan ke pos yang lain. Kelemahan dari sistem ini adalah tidak mendapat dukungan dari penyedia (pembuatnya secara total). Dukungan dari sistem ini adalah dari komunitas. Komunitas tersebat dimana dan pengguna dapat melakukan kontak dengan mereka tanpa berbayar. Software berbasis opensorce yang terkenal antara lain adalah Greenstone, Eprints, DSpace, (CDS/ISIS, Koha),

Dukungan migrasi Software yang digunakan harus dapat mendukung perpindahan sistem dari yang lama ke yang baru dengan mudah. Kemudahan migrasi sangat dibutuhkan agar delay layanan tidak terganggu. Kesulitan dalam migrasi membutuhkan waktu yang lama sehingga proses layanan dengan software baru menjadi tertunda.

Mendukung platform teknologi Digital Library (DL): software yang dibangun harus mendukung platform teknologi DL. Sehingga pengembangan software akan dengan mudah dilakukan. Penggunakan platform akan sangat terasa ketika perpustakaan akan melakukan integrasi sistem, dan kolaborasi sistem perpustkaan.

Mudah diinstal, perbaikan dan pengguna banyak: penentuan pilihan software harus melihat apakah software dapat dengan mudah di install dan diperbaiki dari berbagai jenis sistem operasi (linux windows). Perlu diperhatikan pula pihak mana saja yang menggunakan software tersebut, kapasitas penggunanya, jumlah penggunanya. Dan biasanya software yang baik memiliki jumlah pengguna yang banyak. Jika software yang digunakan adalah software baru, maka yang perlu diperhatikan adalah siapa yang membuat dan didukung dari pihak mana saja yang kompeten.

Dokumentasi menyeluruh: software yang akan digunkan harus memiliki dokumentasi yang menyeluruh, mulai dari instalasi, maintenance, penggunaan, hingga dokumentasi dari sistem itu sendiri. Dokumentasi yang baik dapat menunjukkan bahwa software dibangun dengan baik pula.

Team pengembangan: software yang baik adalah software yang dibangun oleh tim, dimana tim terdiri dari tim analis dan desain, programmer, pustakawan, dan pihak pengguna. Kolaborasi dari yang berkepentingan didalamnya akan mendapatkan software yang baik.

Active User Groups, E-Mail Lists (Users/Developers): kelompok pengguna dan kelompok pengembang yang saling berkomunikasi melalui milis atau web menunjukkan bahwa software memiliki banyak pengguna dan pengembang. Sehingga pengguna dapat dengan mudah menentukan pilihan softwarenya.


Tantangan Perpustakaan Era 2.0
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangat berkembang dengan sangat pesan dan bahkan terlalu pesat sehingga orang sulit untuk mengikuti perkembangan teknolgi informasi dan komunikasi yang ada. Bahkan saking pesatnya maka prediksi-prediksi ilmuwan banyak yang meleset.

"I think there is a world market for maybe
five computers" Thomas Watson, Chairman of IBM, 1943

"640K ought to be enough for anybody" Bill Gates, 1981

"There is no reason anyone would want a computer in their home" Ken Olson, Founder of DEC, 1977

Komputer saat ini sudah digenggam oleh banyak orang, HandPhone (HP) saat ini sudah memiliki kemampuan seperti komputer. Saat ini setiap orang dapat berselancar di internet menggunakan HP. Bahwa facebook saat ini menjadi trend baru dalam dunia internet. Indonesia menduduki di urutan ke 15 pengguna internet dengan jumlah kurang lebih 25.000 orang.
Kultur Sosial Masyarakat Berubah (Social Networking) hubungan sosial yang dulu harus bertatap muka dan berbicara dengan HP, saat ini mereka membangun teknologi social networking untuk berhubungan sosial. Contoh nyata facebook, friendster.

Jumlah pengguna Friendster dari Indonesia nomor 1 sedunia (36%)
Sumber: http://www.alexa.com/data/details/traffic_details/friendster.com

Usia pengguna friendster di indonesia
Rentang Usia (Tahun) Persentase %)
16 – 24 74,2
25 - 34 22,6
35 < = 3,2
Sumber : http://pipl.com/statistics

Traffic Facebook dari Indonesia Menduduki Peringkat 4 Sumber: http://www.alexa.com/site/ds/top_sites?cc=ID&ts_mode=country&lang=none Sementara Account Facebook dari Indonesia Menduduki Peringkat 1 Asia Pacific Sumber: Facebook Report 2009

Kultur Belajar Masyarakat Berubah, dengan perkembangan internet dan teknologinya proses belajar masyarakat beralih ke belajar berbasis elektronik eLearning and eEducation.
Kultur Media Informasi Berubah, media informasi pun berubah masyarakat membangun informasi sendiri dengan data yang mereka miliki melalui blog sehingga rasa demokrasi media jauh lebih terasa.(Blogging dan Democratic Media). Sehingga Hubert mengatakan bahwa Suara Personal Lebih Didengar Daripada Suara Perusahaan Hubert Rampersad, Authentic Personal Branding, 2008.
Kultur Layanan Web Berubah: web conten diisi dan dirubah oleh user, kewenangan web berada pada user User Generated Content (wikipedia, google earh, youtubbe)

Dapat disimpulkan bahwa ciri web 2.0: 1. Konten Dibuat oleh Pengguna, 2. Adanya Kolaborasi Antar Pengguna, 3. Layanan Berbasis Komunitas, 4. Jaringan Sosial, 5. Blogging, 6. Sindikasi dan Agregasi

Pada Web 1.0: Hak Mengakses Informasi. sementara pada Web 2.0: Hak Untuk Berpartisipasi. Partisipasi aktif dari pengguna justru lebih tinggi tingkatannya.

Perpustakaan 2.0 = Web 2.0 + Perpustakaan
Perpustakaan 2.0 adalah perpustakaan yang sudah terdigitalisasi dengan berbasis web dan menggunakan jaringan internet dengan memasukkan ciri-ciri web 2.0. atau bisa di disebut dengan Perpustakaan Berbasis Jaringan Sosial.

Daftar Pustaka

Digital Library http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_library

Digital Library Technologies (DLT) Annual Report, July 2005 - June 2006 its.psu.edu/ reports/ 2006/DLTannual2006.pdf


E-Library: Masa Depan Perpustakaan? Ridwan Sandjaya, 6 Juni 2008

Greenstone in Building Digital Library Collections ;
greenstonesupport.iimk.ac.in/.../Greenstone%20workshop%20Nov%202006/Greenstone-mgs-tutorial.pdf

Impact of Interface Characteristics on Digital Libraries Usage pppjj.usm.my/ mojit/articles/pdf/April05/09-Hasmi.pdf

Kesiapan Pemerintah Daerah dalam Menyelenggarakan Perpustakaan: Menyikapi Lahirnya UU Perpustakaan (UU No. 43/2007) Oleh: Agus Saputera

PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN DIGITAL (DL) DI INSTANSI PEMERINTAH Bambang Setiarso, ilmucomputer.com

Perkembangan Perpustakaan Digital di Indonesia dan di Negara-negara Asia
oleh : Syauqi Fuadi, xfuadi@gmail.com Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Univeristas Indonesia

Perpustakaan 2.0 Romi Satria Wahono

UU Pemerintah Tentang Sistem Informasi Perpustakaan http://www.gamatechno.com/ berita/51-uu-pemerintah-tentang-sistem-informasi-perpustakaan


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2007 wwwfiles.pnri.go.id/...perpustakaan/.../UU_43_2007_PERPUSTAKAAN.pdf

PENYAJIAN DAN ORGANISASI INFORMASI DI DALAM RUANG WEB: DARI MARC KE XML Siswanto FTI Universitas Budi Luhur Jakarta jurnal.bl.ac.id/wp.../02/BIT-Vol1-No2-artikel3-Desember2006.pdf

Software Perpustakaan

Lowongan Job

 
© Copyright Ikatan Pustakawan Kota Pacitan | IPKP 2010 -2011 | Design by Rendra Pacitan | Published by Rendra Nogo-Ijo | Powered by Blogger.com.